Senin, September 07, 2009

Berita Selebriti dan Khalayak Media

Dhanik Sulistyarini
Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Unila, Alumnus Master of Communications & Media Studies, Monash University, Australia

Berita atau informasi tentang selebriti merupakan salah satu topik yang paling populer di media, terutama televisi. Kita dapat melihat tayangan informasi tentang selebriti atau yang sering disebut dengan infotainment, di semua stasiun televisi sejak pagi hingga sore, bahkan malam hari.

Salah satu topik yang sedang hangat-hangatnya dibahas adalah mengenai kasus Manohara. Kurang lebih sepekan terakhir ini berita tentang Manohara terlihat mendominasi berbagai media, baik media cetak, elektronik, maupun internet, dan ditayangkan di berbagai acara infotainment maupun berita (news).

Berita tentang kasusnya yang diduga mengalami penyiksaan dari suaminya, seorang pangeran dari Kelantan, menyita perhatian berbagai lapisan masyarakat, dari rakyat kecil hingga para pejabat negeri ini. Berita ini sangat menarik karena dapat dibahas dari berbagai sisi, misalnya entertainment, hukum, bahkan dapat dikaitkan dengan hubungan bilateral dua negara yang kebetulan saat ini sedang memanas karena masalah Ambalat.

Tulisan ini tidak akan membahas masalah Manohara dari hal-hal tersebut, tapi akan membahas tentang informasi selebriti di media dan hubungannya dengan khalayak (audience), dan menggunakan kasus Manohara sebagai contoh. Sebagian anggota masyarakat mungkin menganggap pemberitaan Manohara terlalu berlebihan karena sejatinya kasus tersebut merupakan masalah rumah tangga, yang tidak hanya dialami Manohara, tapi tidak diekspose seheboh Manohara.

Namun, jika dilihat dari sisi kepentingan media, hal ini merupakan sesuatu yang sah-sah saja. Media berorientasi kepada profit, dapat dipahami bila kasus Manohara sangat menyita perhatian media. Hal ini karena kasus ini menyangkut orang penting, yaitu seorang pangeran dari Kerajaan Kelantan di Malaysia. Kasus ini pun menyangkut pejabat Indonesia di Malaysia. Selain itu, Manohara merupakan seorang wanita cantik, yang baru merintis karier di dunia hiburan di Indonesia. Jadi kasus ini bukan tentang “orang-orang biasa”.

Pada umumnya masyarakat senang mengikuti berita mengenai para orang penting maupun para selebriti. Acara-acara gosip dapat kita temui di semua stasiun televisi, kita pun dapat membaca tentang gosip para selebriti di media cetak ataupun tabloid. Meskipun jika diperhatikan, berita-berita atau gosip yang ditayangkan tidak jauh berbeda di antara sesama stasiun televisi dan tabloid.

Croteau & Hoynes (2003) mengungkapkan dunia selebriti hiburan juga berkaitan dengan pertanyaan tentang kesenangan (fun). Siapakah orang-orang terkenal ini, dari mana mereka berasal, dan mengapa mereka pantas mendapatkan perhatian kita?

Jika kita melihat masyarakat Indonesia kontemporer, dapat dilihat bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut penting. Misalnya jika dilihat bagaimana ramainya pemberitaan tentang Antasari Azhar dan Rani Juliani yang mendadak menjadi selebriti ataupun sekarang kasus Manohara.

Manohara pun tadinya bukan orang penting di Indonesia, sebelum ia diperistri sang pangeran dan dikabarkan mendapatkan penyiksaan. Sekarang ia menjadi selebriti dalam sekejap “berkat penderitaannya”. Terlepas dari benar atau tidaknya berita penyiksaan ini, berita ini telah banyak mendapatkan perhatian.

Croteau & Hoynes (2003) menulis, “Some people are more valuable than others” atau bahwa sebagian orang memang lebih berharga daripada yang lain. Masalah “kelas” atau status sosial merupakan hal yang penting dalam industri media. Dalam konteks media berita (news media), kelas atau status sosial merupakan hal yang penting. Berita-berita yang kita baca di media cenderung menyoroti isu-isu yang berkaitan dengan pembaca dan penonton dari kalangan kelas menengah ke atas, ataupun tentang orang penting dalam masyarakat.

Oleh sebab itu, dapat dimengerti jika beberapa waktu yang lalu berita di media banyak mengangkat kasus pembunuhan yang menyangkut mantan ketua KPK Antasari Azhar ataupun isu-isu politik yang berkaitan dengan para elite politik menjelang pemilihan presiden. Kini sorotan media beralih ke kasus Manohara.

Jika dianalisis dari sisi khalayak (audience), Joshua Gamson (1994) dalam Hoynes & Croteau (2003) menyatakan kegiatan “menonton para selebriti” merupakan tindakan yang kompleks dan bahwa khalayak menggunakan berbagai strategi interpretif dalam interaksinya dengan dunia selebriti. Sebagian khalayak percaya pada apa yang mereka lihat di media, dan memandang para selebriti ini lebih pada bakat yang mereka miliki.

Sebagian yang lain memandang para selebriti ini sebagai sesuatu yang artifisial dan senang menikmati tantangan untuk melihat yang di belakang layar, melepas topeng para selebriti “fiksi” ini. Sedangkan sebagian khalayak yang lain melihat para selebriti ini sebagai “mainan”, dan tidak memandang selebriti baik sebagai realitas maupun sebagai sesuatu yang artifisial.

Playfulness atau sikap main-main ini berkisar pada dua aktivitas, yaitu gosip dan pekerjaan detektif. Untuk sebagian orang, kesenangan menonton selebriti ada pada gosip, yaitu saling berbagi informasi mengenai kehidupan selebriti. Ini sangat menyenangkan karena mereka dapat menertawakan, ataupun memberi komentar sesukanya tanpa ada konsekuensi.

Sedangkan tipe khalayak yang lain lebih menyukai sisi detektif, dengan cara mengumpulkan berbagai informasi dari berbagai media tentang selebriti tertentu, dan mereka menemukan kesenangan ketika mereka merasa telah menemukan apa yang dicarinya.

Terlepas dari tipe manakah kita sebagai audience (khalayak), hendaknya kita tidak begitu saja percaya pada semua yang kita baca dan dengar dari media, tapi lebih cerdas dan kritis dalam menerima berbagai informasi dari media.


Artikel opini ini telah dimuat di SKH Lampung Post, 7 Juni 2009 (available at www.lampungpost.com)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar